Mimpi saya : Part 1

Alhamdulillah akhirnya dapat kesempatan lagi ngisi blog ini yang mungkin udah banyak sarang laba-labanya (karena udah lama di tinggal).

maxresdefault (1)

Di dini hari ini saya kepikiran mau cerita tentang perjalanan impian saya dari kecil dulu yang kalau diingat-ingat berubah-ubah dan ternyata memiliki benang merah keterhubungan, dan lebih serunya ketika nulis ini membuat saya jadi senyum-senyum sendiri, hehe. Waktu sekolah dasar saya bermimpi ingin menjadi pemain sepak bola nasional, terkenang waktu itu sampai guling-guling minta dibeliin sepatu bola oleh kakek saya, ikut latihan ditim sepakbola sekolah sejak kelas 4 SD dan baru dapat kesempatan main di pertandingan utama antar sekolah sekecamatan (di adakan 2 kali setahun kalau nggak salah) waktu kelas 6 SD dan itupun sebagai pemain pengganti di 15 menit terakhir dengan mendapat kesempatan 1 kali menendang bola wkwkwkwk, tapi saya girang banget lho, apalagi ketika disuruh bawa kostumnya pulang untuk disuruh cuci. Ya, setidaknya saya bisa kasih tau emak, nenek dan banggain sama adik saya kalau pernah menjadi tim sepakbola sekolah. 

Di masa-masa SMP impianpun berubah, pengen jadi seorang dokter. Kalau untuk mimpi yang satu ini saya punya modal pernah menjuarai 6 kali juara lomba dan cerdas-cermat IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) tingkat kecamatan waktu kelas lima SD dan menjadi juara 2 untuk tingkat kabupatennya di kelas 6 SD. Keren ya? hehe. Dan, di SMP pun Alhamdulillah ikut lagi lomba IPA dan Fisika meskipun nggak juara satu lagi tapi masih termasuk 5 besar untuk tingkat kabupaten.

Waktu SMA, impian saya  berubah-rubah sangat drastis,hehe. Awal-awal masuk SMA masih tetap konsisten untuk menjadi dokter, namun ketika di SMA aktiv di rohis jadi ingin juga jadi trainer motivasi,ustadz, penulis dan sejenisnya. Pernah juga sesekali ingin kuliah di teknih informatika yang saya juga nggak ngerti itu kerjanya dimana, cuman katanya orang-orang itu keren.

Di kelas 3 SMA, waktu mau SNMPTN disini saya mulai serius mencari impian saya di buku soal-soal SNMPTN (kalau nggak salah) yang dilengkapi oleh masing-masing jurusan di kampus seluruh indonesia, passing grade serta peluang pekerjaan setelah lulus dari jurusan tersebut. Jujur waktu itu saya mikirnya nyari yang kerjanya nanti duitnya gede dan bisa bahagiaan keluarga saya (nenek, ibu dan adik saya). Terlebih sebagai anak pertama yang ditinggal jalan oleh bapak (bukan meninggal) dan tentu juga sebagai uda yang baik dan sayang adik saya memiliki tanggung jawab untuk membiayai sekolahnya dan hidupnya hingga ia mandiri, waktu itu kami masih ditanggung oleh nenek saya, untuk kehidupan sehari-hari kami dibiayai dari gaji pensiunan beliau.

Nah, karena memang fokusnya nyari yang gajinya gede dan pertimbangan kedua adalah nyari yang dikampusnya ada LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)nya .Oya, sejak 3 bulan menginjakkan kaki di SMA saya merasakan indah dan nikmatnya kehidupan di FSI (Forum Studi Islam) ,maka ketika dikuliahpun saya ingin banget gabung lagi dengan orang-orang shaleh kayak di FSI ini, setidaknya manusia yang rada-rada nakal kayak saya bisa terselamatkan dari kenakalan yang lebih besar hehe.

Setelah diskusi kesana kemari, terutama dengan kakak mentor di bimbel akhirnya saya memutuskan untuk memilih jurusan hukum sebagai pilihan pertama di SNMPTN. Alasannya sederhana, ingin jadi pengacara karena memang kata mentor bimbel waktu itu kalau jadi pengacara penghasilannya bisa kita tentukan sendiri, udah kebayang tuh beli mobil range rover warna hitam yang selalu parkir dengan cantiknya di samping tempat bimbel.

Alasan ideologisnyapun saya cari, ketemulah. Saya ingin jadi pengacara muslim yang jujur dan membela kebenaran sekaligus menjadikan ini sebagai jalan perjuangan dan dakwah saya. Asyik kan? hehe. Ini penting, apapun cita-citamu cari dulu ada nggak kira-kira nilai kebaikan atau ibadah yang berdampak bagi kebaikan umat didalamnya.

Singkat cerita kamipun tinggal di tempat bimbel, saking semangatnya kita belajar siang-malam, bahkan saya sampai sering bolos sekolah dengan alasan latihan ngerjain soal-soal SNMPTN, kata kakak mentor kami soal-soal SNMPTN jauh lebih sulit dibanding soal-soal UAS.

Dan, mendekati waktu SNMPTN ada angin syurga, yaitu saya ikut seleksi beasiswa ETOS yang berada dibawah naungan dompet dhuafa kalau nggak salah. Dan, alhamdulillah terpilih, ini sebenarnya kabar gembira banget buat saya, sebab dengan beasiswa etos ini kita dibiayai kuliah, dikasih uang jajan, ada asramanya dan juga ada pelatihan-pelatihan khusus.

Dan…akhirnya nggak terasa tulisan inipun sudah lumayan panjang.

Dan…akan kita lanjut suatu saat nanti.

Bersambung….

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *