Menulislah..

 

21769_1415961185385348_6653710767142089626_n
Buku Pertama Agus ariwibowo : Indahnya Menikah Tanpa Pacaran

 

Bismillah..

Setelah bolong beberapa hari akhirnya bisa lagi nulis di blog ini. Rencananya sih mau rutin tiap hari nulisnya kali aja nanti banyak yang baca, banyak yang tertarik, tulisan di blog dibukuin dan akhirnya di filmin kayak om Raditya dika.hehe.Aamiin..

Pada tulisan kali akan coba nulis tentang “Menulislah”. Tertarik menulis tema ini karena hampir 3 bulan terakhir saya memang fokus dalam menulis apakah itu menulis artikel di beberapa website dan juga nulis buku. Alhamdulillah sudah 1 buku terbit, 1 buku lagi dalam proses di salah satu penerbit mayor dan 6 buku sedang digarap dengan serius. Targetnya sih tahun ini bisa nerbitin 10 buku. Mohon doanya ya sob.

Kalau menulis di berbagai sosial media sebenarnya sudah menjadi aktivitas rutin sejak 3 tahun lalu secara itu waktu ngebangun beberapa akun sosial media di twitter dan facebook yang memang harus nulis tiap saat apakah itu nulis status facebook maupun nulis kultweet di twitter. Nah di akhir 2014 kepikiranlah mau nulis buku ya tujuannya itung-itung belajar nulis dan membeberkan semua kegelisahan serta kegaluan yang sudah sesak di kepala. Kali aja kegalauan dan kegelisahan tersebut bisa menjadi mutiara berharga bagi orang lain, karena 1 kalimat saja bisa mengubah kehidupan seseorang. Nggak perlu jauh-jauh banyak hal yang mengubah kehidupan serta pola pikir saya berawal dari buku. Nah jika tulisan kita dibaca banyak orang, banyak yang mendapat kebaikan darinya tentu itu akan jadi amal jariyah bagi kita.Tapi kadang kitanya suka “meremehkan” sembari berkata “Ah tulisanku cuman begini-begini aja siapa si yang tertarik”.

Di awal mau nulis buku dulu sayapun sempat bingung mau nulis apa, apalagi selama ini paradigma kita kan yang menulis itu adalah orang hebat, orang sukses, orang berprestasi dan mereka menuliskan pengalamannya dan tips-tips suksesnya. Jadi jika belum sukses banget tentu agak gimana gitu ketika mau nulis. Di tambah lagi perasaan minder jika kita menulis nanti nggak enak, jika-jika-kalau-kalau-nanti-nanti ada yang kritik tulisan kita, ada yang bilang tulisan kita salah, ada yang bilang tulisan kita bahasanya sudah “pasaran” dan seabrek-abrek alasan lainnya yang mana kalau kata motivator mah ini mental block.

Saya sendiri dulu mikirnya begini, pada dasarnya diri kita ini sangat istimewa dan sangat “kaya” akan berbagai hal apakah itu yang kita lihat, yang kita rasakan, yang kita gelisahkan, kesalahan-kesalahan dan kekeliruan masa lalu kita, kesedihan kita atau mungkin pada level tertentu adalah prestasi-prestasi kita. Nah ini semua adalah tambang emas untuk ide-ide kita menulis. Maka tuliskanlah itu, tanpa mempedulikan ada yang suka atau tidak, tanpa mempedulikan menarik atau tidak. Sama seperti halnya kita belajar motor (walau saya sendiri belum bisa bawa motor wkwkw), awalnya kita sangat gugup, khawatir, pegangan yang sangat kuat dan hati-hati sekali. Namun seiring berjalannya waktu ketika itu terus dibiasakan dan dilatih lama jadi bisa, bahkan ada yang bisa bawa motor dengan satu tangan dan tangan satunya lagi whatsapp-an (jangan dicoba, berbahaya !) dan yang lebih hebatnya lagi ada juga yang bawa motor dengan melepaskan kedua tangannya. Untuk sampai pada level itu tentu butuh latihan, begitu jugalah dengan menulis, awal menulis tentu agak sulit jika kita berharap tulisan kita sehabat karya buya hamka, awal nulis tentu agak berat rasanya jika karya kita lansung banyak peminat kayak asma nadia dan penulis-penulis hebat lainnya. Namun jika kita sabar dengan proses tentu kita akan sampai pada level itu.

Saya masih ingat ucapannya om tere liye dalam sebuah seminarnya yang saya tonton di youtube, kata beliau level penulis itu ada tingkatannya. Ada penulis yang levelnya menghibur dan menemani, lebih tinggi lagi ada level yang menginspirasi, lebih tinggi lagi ada level yang bermanfaat. Dan kabar baiknya di setiap level ada pasarnya (baca : peminatnya).

Kita cukupin sampai disini dulu ya, lumayan nih udah 500an kata hehe. Nanti kalau diterusin malah jadi modul menulis. Semoga bermanfaat, menulislah, menulislah dan terus menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *