Mentor Menulisku

Uda agus belajar menulis sama siapa ?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul saat saya menghadiri undangan bedah buku, ketemu sesama penulis atau saat bertemu teman-teman lama. Penulis keren, mungkin belum ya. Tapi Alhamdulillah hingga saat ini saya telah menerbitkan 4 buku, 3 buku termasuk dalam jajaran buku laris dan 1 buku tercatat sebagai buku mega best seller nasional.

Buku-buku yang tercatat sebagai buku laris adalah buku Indahnya Menikah Tanpa Pacaran, buku Makin Syar’i Makin Cantik dan buku Jodohmu Dekat, Dia Ada Dalam Dirimu. Sementara buku yang tercatat sebagai buku mega best seller nasional adalah buku nikah. Buku idaman para jomblo bahagia maupun merana, hehe.

Pada awalnya saya menjawab sekenanya aja, saya jawab kalau saya belajar menulis dari mana saja dan pada siapa saja. Tapi sepertinya nggak seru juga kalau jawabannya seperti itu terus, selain kurang dramatis tentu juga terlihat biasa saja, nggak ada istimewanya. Akhirnya saya merenung, melamun sambil mikir sejak kapan ya saya jatuh cinta pada dunia buku ini ?

Ahaa ! Ketemulah jawabannya. Saya jatuh hati pada buku termasuk di dalamnya kegiatan membaca dan menulis semenjak usia 4 tahun. Kalau kata Amak usia 3 tahun saya sudah tau huruf-huruf. Pada usia 4 tahun Amak mulai rutin membelikan majalah bobo, kadang-kadang juga koran. Semenjak itulah kecintaan membaca saya tumbuh melesat. Beranjak usia SD saya jadi kolektor buku komik kisah nabi dan serial petruk gareng karya Tatang S. Hampir setiap minggu saya beli komik ini. Selain itu kegilaan membaca juga saya salurkan dengan membaca setiap kertas koran pembungkus maco atau lado nenek sepulang belanja dari pasar. Mirip-mirip dengan kisahnya mbak Asma dan Mbak Helvi Tiana Rossa ya ? Semoga suksesnya juga mirip-mirip nantinya.Aamiin. Doakan ya.

Memasuki masa SMP, SMA bahkan hingga kuliah kecintaan membaca ini terus tumbuh subur. Bahkan semasa kuliah di Jakarta saya menjadikan Gramedia sebagai tempat berlibur ter-asyik. Pernah suatu ketika saya membaca buku sampai tamat di Gramedia, saya masuk gramedia pas dibuka sekitar jam 10 dan baru pulang sorenya. Saat itu di Gramedia masih menyediakan tempat duduk yang cukup banyak, jadi bisa duduk dan membaca buku dengan nyaman. Tapi sekarang sepertinya Gramedia sudah mengurangi bahkan meniadakan tempat duduk di tokonya. Sehingga kalau mau baca ya berdiri atau duduk di lantai sampai ditegur satpam. Entah ini strategi dagang atau bagaimana, hanya pihak Gramedia dan Allah yang tau.

Amak, inilah orang paling berjasa dalam hidup saya yang telah mengenalkan saya pada huruf-huruf, mengajarkan saya membaca rangkaian huruf dan menumbuhkan kecintaan pada dunia membaca dalam diri saya. Beliaulah mentor menulis saya, beliaulah orang yang paling berjasa atas lahirnya karya-karya saya. Semoga Allah limpahkan selalu kesehatan,kebaikan dan umur yang panjang untuk amak.

Orang selanjutnya yang cukup mempengaruhi saya untuk menulis adalah istri saya. Fidayani alias Ummu Ghazi, kalau di rumah panggilannya mimi. Sejak awal menikah Ummu Ghazi selalu nyemangatin saya untuk menulis buku dan juga punya blog yang profesional. Dia ingin saya menjadi penulis dan memiliki karya yang menginspirasi banyak orang. Tapi setiap kali disuruh menulis saya selalu beralasan “Ah nanti aja, sekarang mau fokus jualan dulu aja. Lagian menulis itu bagi orang yang nggak punya nama kayak kita ga ada duitnya” hehe dasar mata duitan ya.

Ummu Ghazi nggak pernah lelah nyemangatin saya untuk menulis. Hingga akhirnya saya menulis buku pertama yang terbit yaitu buku Indahnya Menikah Tanpa Pacaran. Saat buku pertama ini masih dalam masa promosinya Allah pun mengirimkan lagi orang yang pada akhirnya sangat berjasa dalam perjalanan saya sebagai penulis. Seorang anak muda yang dengan penuh semangat dan keuletannya membangun sebuah bisnis Hijab dengan Brand Elmina Hijab. Mas Diaz namanya. Beliau menawarkan saya untuk menjadi kontributor tetap di website brand hijab miliknya www.elmina-id.com  . Secara tak lansung hal ini memaksa saya untuk menulis minimal 1 artikel setiap hari, secara tak lansung hal ini memaksa saya untuk lebih banyak membaca dan belajar lagi dan secara tak lansung hal ini juga melatih kemampuan menulis saya.Terimakasih mas Diaz.

Akhirnya saya pun memutuskan memilih menulis adalah jalan perjuangan menyebarkan kebaikan sekaligus jalan untuk hidup (sumber rezeki). Pada awalnya saya mengira menulis itu duitnya sedikit eh ternyata saya salah. Karena uang dari menulis tidak hanya dari royalti saja, banyak pundi-pundi penghasilan menyegarkan lainnya dari menulis. Untuk hal ini saya bahas dalam ebook saya Writerpreunership vol 1 bisa anda DOWNLOAD DISINI .

Dan tentang royalti pun kalau kecil itu hanya sementara, saat awal-awal saja. Jika kita rutin menulis, banyak menerbitkan buku maka cepat atau lambat akan meningkat dengan sendirinya. Tentu sangat tergantung sekali kapan kita memulainya. So, yang lebih penting dari hanya sekedar rupiah adalah nilai manfaat dan kebaikannya, terlebih lagi jika karya kita menjadi sebab bagi orang lain untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Uda agus belajar menulis sama siapa ?

Jika masih ada yang bertanya seperti itu, inilah jawabannya. Mungkin kedepannya akan selalu bertambah lagi mentor-mentor hebat yang turut membentuk dirinya menjadi seorang penulis. Dan, melalui tulisan ini saya berharap bisa menjadi semacam percikan motivasi bagi sahabat semua untuk menulis dan menerbitkan karyanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *