Hijrah

1438 tahun yang lalu, 1438 tahun berlalu. Atau kalau kita hitung hari lebih kurang 524.870 hari yang lalu. Sebuah momen sejarah yang tak terlupakan, tetap akan dikenang dan tetap akan memberikan hikmah pembelajaran bagi kita semua.

Peristiwa 14 abad yang lalu ini mengajarkan kita tentang makna hijrah yang sesungguh dan seutuhnya. Rasulullah SAW berangkat meninggalkan Makkah dimana saat kebencian dan kemarahan kaum kafir Quraisy memuncak hingga sampai pada rencana pembunuhan beliau, peristiwa bersejarah ini juga menunjukkan lakon-lakon hebat nan setia berjuang demi Allah dan Rasul-Nya. Kita bisa sebut Ali Abi Thalib R.A yang diminta untuk tidur menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidur beliau, tujuannya tentu mengelabui para musuh Allah sehingga mereka berpikir itulah Rasulullah. Resikonya ? Tentu dibunuh oleh kaum kafir.

Dalam peristiwa ini kita juga mengenal sosok Abu Bakar Ash Shiddiq dengan kesetiaannya kepada Rasulullah SAW. Jika anda ingin menjadi seorang sahabat yang setia mungkin ini adalah teladan terbaiknya. Abu Bakar membenarkan kebenaran yang Rasul bawa saat yang lain mencibirnya, Abu bakar setia mendampingi Rasulullah tatkala yang lain membecinya. Dan pengorbanan terhadap itu mungkin bisa kita saksikan pada peristiwa hijrah ini, bagaimana ia mendampingi Rasulullah dalam perjalanan ke Madinah lalu menahan perihnya gigitan kalajengking di dalam gua saat membersamai Rasulullah.

Tinggalkan keburukan menuju kebaikan

Saya merasakan momen yang sangat berbeda pada hijrah tahun ini. Sejak kemaren sabtu 1 Oktober hingga Minggu 2 oktober Allah limpahkan karunia terindah berupa rezeki ilmu. Diawali di hari sabtu dengan belajar tentang kepenulisan di Gedung Kompas Gramedia. Acara  yang digelar Komunitas Menulis Online (KMO) yang menghadirkan Mas Tendi Murti, Bunda Pipiet senja dan mas Ippho Santosa.

dsc01160
Seminar 1000 Penulis muda untuk Indonesia bersama Ippho Santosa

Siangnya saya bersama Muhammad Isran mengunjungi pagelaran buku Indonesia International Book Fair Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta Pusat . Di acara inipun kami kembali disuguhi oleh lautan ilmu. Mulai dari bedah buku Manchester Biru karya Uda Hanif Thamrin, Talkshow SELF Driving bersama pak Rhenald Kasali, dan terakhir sharing inspiratif dari Alberthiene Endah seorang penulis biografi kenamaan Indonesia yang telah menulis lebih dari 40 buku.

Dan kami pun menutup hari itu dengan santapan ruhiyah di Masjid Daarut Tauhid, cipaku kebayoran baru yang kebetulan juga menggelar Mabit peringatan tahun baru Hijriah 1438 H. Di masjid ini kami mereguk hikmah-hikmah kebaikan dari Ustadz Ahmad Zarkasi LC, Ustadz Ismeidas , Ustadz Ibnu Jarir sebagai Imam Qiyamul lail dan paginya ditutup oleh Ustadz Haikal Hassan.

Sekian banyak ilmu, sekian banyak hikmah, sekian banyak makna yang didapat selama perjalanan dua hari ini memberikan saya sebuah penguatan dalam diri. Kalau saat ini, momen tahun baru hijriah ini adalah momen terbaik untuk mengevaluasi diri secara menyeluruh, merancang perbaikan yang akan dilakukan serta menetapkan target yang akan dicapai. Harapannya tentu momen ini menjadi sebuah lompatan hebat bagi hidup kita. Baik dari sisi ibadah, kapasitas ilmu, keuangan, pergaulan dan berbagai hal lainnya.

“Selamat tahun baru Hijriah 1 Muharram 1438 Hijriah, selamat menghebatkan diri di momen hebat ini”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *