Ghazi dan Dedeknya

Seumur-umur (26 tahun) saya Allah beri ujian kesedihan yang cukup besar 3 kali. Pertama adalah saat saya berusia 12 tahun, tepatnya waktu kelas 6 SD dan tepatnya lagi pada 1 September 2002. Pada tanggal ini Allah memanggil Iniak* kembali pada-Nya. Saya masih ingat waktu itu sekitar pukul 06.00 pagi mak eno* datang ke rumah kami dengan lari tergopoh-gopoh, matanya bengkak dan merah, masih jarak 10 meter dari rumah beliau sudah teriak “Apak alah salamaik”. *Saat itu kami masih tinggal di pintu angin, sebuah kawasan terpencil yang lebih tepat disebut rimba. Jaraknya cukup jauh dari jalan besar, kurang lebih 45 menit perjalanan melalui jalan setapak yang kiri-kanannya adalah pohon yang tinggi besar. Jangan kaget kalau selama perjalanan kita akan sangat mudah menemukan babi yang melintas, ular , simpai dan beraneka ragam burung-burung. Oya pintu angin ini juga menjadi kawasan buru kandiak masyarakat sumatra barat, yang jelas kalau lewat sini mirip-miriplah dengan pergi berwisata ke kebun binatang. Tapi asyiknya binatangnya ga diikat dan kita pun tidak diatas kendaraan. Di pintu angin inilah saya dibesarkan sejak usia 2 bulan hingga usia 12 tahun atau saat kakek meninggal. Selama tinggal disini saya menghabiskan waktu pergi ke sekolah lebih kurang 3 – 4 jam pulang pergi dalam sehari. Menempuh jalan setapak, melewati semak belukar dan pepohonan besar. Setelah membaca ini kalian akan tau ternyata yang punya kisah seperti ini tidak hanya lintang dalam laskar pelangi saja, termasuk juga saya pernah mengalaminya. Dan tambahan informasi di kawasan ini hanya ada 3 rumah, dan saat kematian iniak tinggal satu rumah kami saja, karena dua yang lainnya sudah pindah. 

Oke, sekarang balik lagi ke cerita sedih tadi ya. Maaf kalau pengantar pintu anginnya kepanjangan. Setelah mak eno mengabari kepergian Iniak saya refleks meraung, tangisan meledak tak tertahankan, saya masih ingat saat itu meloncat-loncat. Yang pasti kematian Iniak adalah sesuatu yang berat bagi saya, sejak ditinggal pergi papa saya selalu dengan beliau, beliaulah yang mengenalkan saya pada pacuan kuda, menonton bola, mengajarkan cara menjadi Imam shalat, mengjak ke masjid di waktu usia 5 tahun dan membiarkan saya Adzan di Masjid padahal belum waktu shalat. Mungkin beliau adalah sosok pengganti papa yang Allah kirimkan. Berat memang perpisahan itu, tapi harus dilalui.

Kesedihan kedua datangnya tanggal 3 Juni 2011, saat itu saya masih kuliah di Jakarta. Sekiranya jam 08.00 pagi handphone nokia jadul seharga 300 ribuan saya berdering. Tertera disana nama Umi sayang, ya sebuah telpon dari amak. *Meskipun di kontak ditulis ummi tapi manggilnya tetap Amak

Dari tanah minang Amak mengabarkan kalau nenek telah dahulu *Di minang, khususnya lingkungan saya ada beberapa istilah untuk orang yang sudah meninggal seperti ‘alah salamaik’ , ‘alah dahulu’ istilah yang cukup bagus dibanding menyebutnya ‘telah mati’. 

Berbeda dengan saat Iniak meninggal, ketika mendengar kepergian nenek saya tidak menangis menjerit-jerit layaknya Iniak meninggal. Namun rasa yang dirasa sangatlah berat, setelah 3 tahun saya tinggalkan nenek di kampung untuk pergi merantau tanpa pulang kampung selama 3 tahun, tiba-tiba nenek mendapat kabar nenek meninggal. Nenek ini adalah guru spiritual saya, beliau yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal barang semenit pun menjadikannya buta huruf latin. Tapi tidak untuk Al-qur’an, bacaannya sangat bagus, rajin shalat wajib, mendirikan shalat sunnah mulai dari Rawatib, Dhuha, dan Tahajud. Dapat kabar dari Amak beliau masih shalat tahajud bahkan saat sakit keras menjelang meninggal. Nenek jugalah yang dulu rutin mengajak saya pergi menghadiri majelis pengajian setiap jumat pagi di Masjid Darul Akhyar Pincuran Puti, sejak usia 4 tahun hingga usia 7 tahun selama pengajian beliau selalu duduk paling depan. Tepat di depan Ustadznya. Alhamdulillah pembelajaran ini sangat membekas bagi saya, hingga saat ini saat ada pengajian, seminar atau pun acara apapun saya selalu berusaha untuk duduk paling depan.

Dan, terakhir tentang kesedihan yang ketiga. Ini menurut saya cukup unik. Saya belum pernah bertemu dengannya, tak tau seperti apa rupanya, tak tau namanya, bahkan jenis kelaminnya pun belum tau. Tapi kepergiannya cukup menggoncangkan jiwa, membuat diri tertunduk lesu, kesedihan hadir begitu mendalam dan tangisan pun tak tertahan. Ini tentang kepergian anak kedua saya, dedeknya Ghazi.

Hari itu, senen 15 Agustus 2016 sekitar pukul 11.00 Ummu ghazi mengabari kalau dia pendarahan. Harusnya siangnya saya harus belanja buku untuk stock di toko buku saya, tapi karena keadaannya darurat belanja pun dibatalkan. Kami mencari dan meminta beberapa rekomendasi kepada teman dimana tempat USG yang rekomended di daerah Bojonggede dan sekitarnya. RSIA As*a*l*m didapat sebagai alternatif pertama. Saya pun menelpon kesana untuk mendaftar USG. Singkat cerita Ummu Ghazi terdaftar untuk di USG pukul 17.30 . Pukul 17.00 kami sampai di rumah sakit tersebut. Setelah melakukan pendaftaran ulang, membayar, periksa darah, menunggu sekitar 20 menit. Dokter yang ditunggu datang, dengan wajah jauh dari kesan ramah, agak cuek disertai dengan marah-marah pada asistennya yang keliru dalam menyalakan mesin USG . Cukup cepat dia melakukan USG, masih dalam kondisi berdiri dengan sangat santai dokternya bilang “Bayinya sudah tidak bergerak, lansung siapkan kuret”.

Tentu ini membuat saya dan istri sangat shock, bayi kedua yang kami nanti-nantikan bahkan kami berharap bayi ini perempuan tiba-tiba dikabarkan sudah meninggal. Tanpa penjelasan yang cukup memuaskan lansung di suruh kuret. Perawat yang dari tadi menemani sang dokter menambahkan “Harus segera dikuret lho pak, kalau nggak bisa bahaya bagi ibunya.” Saya yang masih shock, malah bertambah shock gara-gara ucapan dokter ini. Karena menginginkan yang terbaik, saya pun mendatangi loket untuk mendaftar kuret tak lupa menanyakan biayanya. “Untuk USG lebih kurang 4 juta pak” ujar perawat yang penjaga loket pendaftaran. “Itu belum biaya obat dan perawatan” tambahnya. Ah mahal sekali pikir saya waktu itu. Saya pun menemui istri untuk berdiskusi.

“Kemahalan segitu mbi, kalau kuret kita ke jakarta aja bisa pakai BPJS” kata ummu ghazi. Untuk menenangkan diri kami pun duduk sejenak di kursi ruang tunggu. Melalui whatsapp mulailah ummu ghazi nanya-nanya pada teman-temannya tentang kuret. Muncullah banyak masukan dari teman-temannya. Ada yang menyarankan datang ke dokter lain untuk mencari pendapat lain, karena ternyata sering juga kejadian menurut dokter A bayinya sudah meninggal namun ketika di cek ke dokter B bayinya ternyata masih hidup. Atau kasus lain misalnya di rumah sakit A harus kuret tapi ternyata di rumah sakit B bisa hanya pakai obat. Alhamdulillah kami pun lega, segera membatalkan kuret di rumah sakit tadi. Pulang ke rumah, tugas kedua adalah mencari mana rumah sakit dan dokter yang rekomended. Inilah buah dari persahabatan, inilah buah dari kebaikan Ummu Ghazi bergabung banyak grup-grup Whatsapp emak-emak.

Dr. Dewi Kooskurniawati, Sp.OG dan Rumah Sakit HGA (Hasanah Graha Afiah) adalah rekomendasi dari teman-teman Ummu Ghazi. Besok paginya kami datangi rumah sakit ini untuk melakukan USG yang kedua kalinya. Tak henti-henti kami berharap dan berdo’a agar hasil di Rumah sakit ini berbeda, kami berharap semoga dedeknya Ghazi masih hidup, kami ingin hasil cek USG sebelumnya salah.

Sekitar jam 10.00 kami tiba di rumah sakit HGA, daftar pasien, antri dan akhirnya bertemu dengan dokter Dewi. Ma syaa Allah ini dokternya ramah banget, mulai dari kenalan hingga selesai senyum terus dan satu lagi kelihatan banget kalau orangnya melayani pasien dari hati. Ummu ghazi di periksa, hasil USG ditampilkan di layar, Bu dokter menjelaskan setiap detail yang tampak. Ya, memang pada akhir hasilnya tetap sama kalau bayinya sudah meninggal, dokter dewi juga menjelaskan kalau bayi sudah tidak berkembang sejak usia 4 minggu kehamilan, kalau dihitung itu sekitar awal juli.

Dokter yang baik berkerudung ini mempersilakan kami duduk, lalu melanjutkan penjelasannya. “Janin tidak berkembang itu penyebabnya adalah genetik, terjadi secara random. Ikhlaskan ya, terima dengan lapang dada” tutur bu dokter menguatkan kami.

“Mengeluarkannya mau dikuret atau pakai obat saja ?” Tanya dokter dewi. Karena janinnya masih sangat kecil atau baru berumur sekitar 4 minggu jadi pilihan pakai obat kami pilih. Alhamdulillah, tidak jadi dikuret dan alternatif mengeluarkan janin pakai obat ternyata biayanya jauh lebih murah dibanding kuret. Waktu itu kami kena sekitar kurang lebih 1 juta. Sudah termasuk obat, perawatan, transportasi pulang pergi ditambah sepotong kebab dan semangkok bubur ayam.

Hufttt. Cukup panjang juga ternyata tulisannya ya, terimakasih buat sahabat yang sudah meluangkan baca sampai selesai. Harapan saya tulisan ini nggak hanya jadi curhatan tentang kesedihan semata. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.

*Iniak = Kakek bahasa minang 

*Amak = Ibu

*Mak eno = paman

*Buru kandiak = buru babi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *